Inspirasi kopi (kesabaran)

Ini masih soal inspirasi kopi yang kemarin. Memang inspirasi yang dihasilkan kopi ini tak akan usai dan pastinya akan terus berlanjut dalam wacana berseri. Entah kenapa imajinasi soal kopi tak akan pernah terbatas. Yah, mungkin karena kopi adalah sahabat penghibur saat sedih, teman yang mempertemankan teman, dan teman setia pengusir rasa ngantuk serta sekaligus mengerogoti otak untuk berpikir. Atau apalah istilah tepat yang mewacanakan persahabatan dengan kopi.

Baca inspirasi kopi seri terdahulu : https://nathanbulang.wordpress.com/2017/10/30/antara-inspirasi-kopi-sarjana-terdidik-dan-api-sumpah-pemuda/

Kopi kali ini berbeda dengan kopi kemarin. Ini mengenai kopi di siang bolong. Kala itu suhu kota kupang atau orang sering sebut sebagai kota karang sangatlah panas. Tapi tidak menyurutkan niat saya untuk putar segelas kopi ditengah suasana yang tidak kondusif ini.

Sebenarnya ide ini bermula karena saya mengantuk berat, dan saya tidak mau tidur karena 1 jam lagi ada jadwal kuliah. Memang semalam kami aktivis Senat Universitas usai evaluasi kegiatan kami lanjutkan dengan diskusi ilmiah seputar isu-isu di kampus, isu politik, sosial dan filsafat serta masih banyak lagi hingga jam 3.00 pagi. Hal itulah yang buat saya mengantuk.

Baru saja selesai diputar saya langsung minum. Ternyata masih sangat panas. Akhirnya saya biarkan beberapa saat supaya panasnya berkurang.

Saat itu secara tak sengaja mendengar tetangga saya berkata berkata kepada istrinya “akhirnya kita bisa berkebun juga, setelah sekian lama kita melewati musim panas dan sebentar lagi musim hujan tiba. Kita harus berusaha lebih keras agar hasil kebun kita meningkat dari tahun lalu “. Lalu diambilnya sebilah parang lalu mulai menebang pohong liar yang tumbuh di kebun itu. Lalu istrinyapun turut membantu suaminya. Cucuran keringat akibat panas yang saya sendiri tidak tahan bukan menjadi masalah bagi mereka. Mereka tetap bahagia kerja bersama layak suami istri meski di medan yang menyuguhkan ‘kepahitan’ semata dan juga meski dalam rumah tangga yang masih menyisahkan beribu kehidupan ‘pahit’.

Dari balik pagar kebun saya panggil “Nya, mari minum kopi kane” dalam logat kupang. Lalu sayapun berbagi kopi dengan mereka. 1 gelas kopi menemani dan mempertemankan kami di balik tirai ‘kepahitan’ hidup kami masing-masing.

Makna filosopis dari kopi tadi juga saya bagikan bahwasanya kopi menjadi guru bijak dalam memandang hidup ini. Meski pahit tapi tetap dinikmati karena aroma kopi sesungguhnya berasal dari kepahitannya. Saya belajar bahwa ‘kepahitan’ akan lika liku tapak kaki kita, harus tetap nikmati karena kesuksesan sesungguhnya ada dibalik ‘kepahitan’ itu. Hikmah dibalik ‘pahit’ yang kita rasakan menghasilkan sukses yang teruji.

Dibalik itu pula saya belajar bahwa menikmati kopi tidak hanya didasarkan atas ‘nafsu’ kopi belaka. Tetapi kesabaran menjadi taruhan dalam kenikmatan pahitnya kopi. Sabar dalam menikmatinya, karena segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Kesabaran menjadikan kita bahwa sabar bukanlah pilihan tetapi suatu keharusan. Belajar dari ‘nya’ tadi bahwa ia sangat sabar menanti datangnya musim hujan dan sabar melewati musim panas tanpa mengeluh karena ia tahu dibalik musim panas yang ‘mempahitkan’ hidupnya pasti ada musim hujan yang melegakan dahaganya.

Sabar dan selalu mencintai tangan serta berusaha menyelesaikannya menjadikan kita insan yang mempunyai sukses yang teruji. Karena memang secara kodrat manusia dilahirkan untuk menyelesaikan masalah. Dan yang pasti segala sesuatu ada waktunya, waktu untuk hidup, waktu untuk mati, waktu untuk berbicara, waktu untuk mendengar dan semua itu waktunya sudah tersedia. Dan kita tahu dibalik semua itu tersirat hikmat yaitu masa pemulihan dan masa penganugerah mahkota kesuksesan. Tinggal bagaimana semua yang sudah ada waktunya kita jalani dengan SABAR.

BERSAMBUNG…

Tunggu inspirasi kopi selanjutnya.

Antara inspirasi kopi, pengangguran terdidik dan api sumpah pemuda.

Sejenak merajut inspirasi dibalik udara ringan dan segar dan hangatnya sinar ultraviolet turut menghangatkan.
Sejenak membebaskan kuping dari berisiknya kota dengan giatnya masing-masing orang lalu menikmati hingga dalam relung hati indah kicauan burung nan merdu.
Tangan tangan perlahan menarik keluar sebatang senduk sesudah memutar segelas kopi dan mencicipi sebagai tahap memastikan rasa dan aromanya sudah pas atau belum. Ah, aromanya sudah layak dinikmati.
5 detik berlalu dan saya mulai menikmatinya dengan tegukan pertama. Tiba-tiba hape berbunyi, sms masuk.
” lu tidak kuliah ini hari ko ? Kenapa belum datang kampus ?”.
Sontak aku terbangun dan baru sadar kalau saya kuliah jam 7.00 am. Slogan Brimob ” cepat, tepat senyap” menjadi slogan dadakanku. Bedanya ada penambahan slogan “kilat”. Lima menit kemudian saya sudah siap berangkat.
***
Dalam perjalanan saya tidak habis pikir soal artikel yang saya baca pagi tadi tentang banyaknya sarjana yang jadi pengangguran. Sempat terlintas dalam benak saya untuk berhenti kuliah karena untuk apa saya jadi sarjana sedangkan di luar sana masih banyak sarjana pengangguran. Sudah begitu saya juga heran kenapa kalau soal kuliah saya rajin sekali padahal banyak sekali pegangguran terdidik yang belum dapat pekerjaan. Bukankah tujuan saya kuliah adalah untuk mendapat pekerjaan yang layak ?
Soal pengangguran, banyak pihak yang menyalahkan pihak pemerintah karena tidak siapkan lapangan pekerjaan bagi output sarjana. Apakah ini benar-benar salahnya pemerintah ? Atau ada pihak lain yang perlu disalahkan ?
***
“Horee… tidak jadi kuliahh, pak ada pertemuan mendadak. ” teriak teman-teman saya ketika sampai di kampus. Saya menyesal sekali. bukan soal kuliah atau tidak, tapi menyangkut segelas kopi yang saya tinggalkan dan belum sempat saya nikmati. Dibalik itu, saya juga heran kenapa mahasiswa lebih senang ketika dosen tidak masuk kelas. Sebagian mahasiswa langsung pulang, ada juga yang mengisi waktu kosong untuk bercerita entah tentang apalah. Tempat santai menjadi ramai sedangkan kelas kuliah dan perpustakaan kosong.
Ketika itu, banyak ajakan kawan saya. Ada yang mengajak saya ke kos, ke kantin, ke rental PS (Play station) dan saya pun bingung mau ikut yang mana. Tiba-tiba teman karib saya memanggil saya. Dan sayapun dengan sendirinya turut karena saya tahu apa yang bakal kami buat tanpa harus diungkapkan karena ini sering kami lakukan.
***
Dipojok ruangan yang berisi ribuan buku yang tersusun rapi dan suasana ruangan yang sepi, satu per satu ide keluar sebagai hipotesis atas problem yang sempat saya pikirkan tadi. Kami coba bertukar idiologi dan pendapat serta berusaha memecahkannya. Kira-kira inilah pokok pikiran kami :
Memang perkembangan ekonomi Nasional melemah. Sehingga banyak output sarjana yang tidak terserap. Tapi ini tidak serta merta menjadi satu-satunya problem membengkaknya jumlah pengangguran terdidik. Hal ini kembali kepada anak Bangsa khususnya kaum muda sebagai kaum intelek, kaum akademis dan kaum berenergik. Mengapa kaum muda sendiri khususnya mahasiswa menjadi faktor banyaknya pengangguran terdidik ? Apakah kaum muda terlalu memberatkan negara ?
Pemerintah tidak salah-salah amat. Kaum muda juga tidak salah-salah amat. Hanya kurangnya kesadaran dua pihak ini untuk membenahi negeri ini.
Minimnya kesadaran pemerintah di buktikan banyaknya pihak mempraktekkan tindakan KKN dan bersikap anti prorakyat sehingga mengganggu kestabilan ekonomi, menurunkan tingkat kepercayaan investor dan lain sebagainya.
Yang menjadi masalah jangka panjang berasal dari intern kaum muda sendiri. Boleh di bilang kaum muda terlalu mengharapkan pekerjaan layak, didapat secara instant tanpa harus intropeksi kapasitas diri.
Potret mahasiswa umumnya sudah tergambar pada cerita tadi, bahkan masih banyak lagi kebiasaan buruk yang memperparah integritas dan kapasitas diri mahasiswa sebagai kaum muda berintelek dan berenergik. Banyak yang kuliah hanya karena untuk mendapat gelar, karena tuntutan orang tua, dan ada pula yang kuliah hanya ikut-ikutan. Kebiasaan pada mendapatkan sesuatu yang instan tanpa keluar dari zona nyaman dan mencintai tantangan. Akhirnya mengharapkan pekerjaan instan dan tidak bersikap pro terhadap tantangan membuka peluang pekerjaan. Kurangnya minat baca dan minimnya dunia literasi ikut memperparah potret diri mahasiswa.
Yang paling dilupakan mahasiswa adalah proses dan pengembangan potensi diri untuk bersikap ilmiah kritis, proaktif, kreatif dan inovatif. Jika sikap ini menjadi integritas diri dan ciri khas mahasiswa maka sangat diyakini bahwa soal pekerjaan bukan lagi menjadi problem yang menyusahkan bangsa dan mempersalahkan pihak lain.
Dengan sikap ini output sarjana akan mampu menciptakan peluangnya sendiri dan membuka lapangan pekerjaan sendiri, tanpa harus menunggu pekerjaan menjemput kita. Bahkan bahkan Bapak Pendiri Bangsa Indonesia menaruh tonggak pembangunan bangsa kepada kaum muda selaku generasi penerus yang berenergik. Ia pernah berkata “… berikan aku 10 pemuda maka aku akan guncangkan dunia”.
Jika tidak memperbaiki kapasistas dan identitas mahasiswa sebagai kaum muda, kitalah sarjana terdidik yang memberatkan bangsa ini. Semoga semangat juang kepemudaan kita tidak hanya panas di tanggal 28 oktober kemarin tetapi semoga semangat yang heroik ini terus menyala dan berkobar disetiap sekon waktu dan setiap inchi ruang yang terlewati. Agar identitas mahasiswa sebagai kaum muda akademis tidak tercoreng. Dan yang paling penting agar kita tidak dilatih menjadi penganguran terdidik.

Kesimpulan terakhir kami di pojok ruangan itu adalah hidup seperti kopi yang belum saya sempat nikmati dan saya ingin sekali menikmatinya tadi pagi. Walaupun ia pahit tapi tetap harus dinikmati karena dari kepahitannya itu sendiri yang menjadikan ia beraroma khas layaknya kopi. Aroma khas dari kepahitan itulah yang kita cari lalu mencintainya. Tetapi jangan lupa agar tidak merusak aromanya maka harus memperhatikan takaran gula dan kopinya.

Bersambung…